Tuesday, 29 September 2015

FAN 2014 (final)

FAN 2014 (final)



 Forum Anak Nasional 2014
Nuka Hanif Naufal (A1 C115058)
Pendidikan Matematika

            “Bismillahirrahmaanirrahiim, ikam pasti bisa, Nuk” ucapku  meyakinkan diriku sendiri.
            Aku pun melangkahkan kaki gemetarku menuju panggung yang terletak tepat di bagian depan ruangan. Tak ada suara sama sekali, yang kulihat hanya ratusan tatapan mata yang seakan mengekor setiap langkah kakiku. Aku berhenti tepat di depan sebuah podium yang berdiri gagah di tengah-tengah panggung, mengedarkan pandangan, tersenyum simpul, dan berkata lantang
            “Perkenalkan, nama saya Nuka Hanif  Naufal, saya perwakilan dari Forum Anak Daerah kabupaten Tabalong.”
 

Cerita ini terjadi pada bulan mei, tahun 2014. Tak ada yang istimewa pada hari itu. Kami mengikuti pelajaran seperti biasa. Bercanda gurau seperti biasa. Ketiduran di kelas seperti biasa.Yang agak tidak biasa hanya, ketika sedang asik melamun waktu pelajaran fisika, tiba- tiba seorang anak tak dikenal mengetuk pintu  kelas dan  langsung masuk tanpa dipersilahkan
Ka Nuka, pian dipanggil kepala sekolah” ucap anak tersebut.
Aku yang sedang asik menghitung jumlah personil boyband di kotak pensil temanku  hanya bisa terkejut dan bertanya.
 “Hah? Aku? Dipanggil Pa Kepsek?”
            “Astaghfirullah, jangan-jangan pa kepsek meliat aku pas lagi joget-joget unyu di taman sekolah semalam, mati aku kaini”
            Dengan perasaan gugup dan was-was, aku pun langsung menuju kantor pa kepsek yang letaknya cukup jauh dari kelasku. Lumayan buat olahraga kali aja bisa kurus, pikirku.
Sesampainya di ruang Kepala Sekolah, aku pun semakin gugup. Ruangan berukuran sedang yang di dalamnya penuh dengan berbagai piagam dan penghargaan atas lomba-lomba yang dijuarai sekolah ini mendadak terlihat menakutkan di mataku. Dengan perasaan campur aduk, aku pun mengetuk pintu ruangan beliau.
            “Assalamualaikum, bapa nyari Nuka?”  ucapku.
            “Waalaikumsalam, oooh, Nuka, masuk dulu nak” sahut beliau ramah.
“Jadi kaini, nih dinas minta perwakilan dari tiap sekolah gasan ditest umpat Forum Anak Nasional 2014 di Jakarta. Nah, jadi Nuka bapa tunjuk mewakili SMAN 2 Tanjung. Kyapa? Kawa ja lo nak?”
            “Ooooh, inggih pa, inshaa allah ulun bakal beusaha jadi yang terbaik. Pebila pa acaranya?” tanyaku penasaran.
            “Lusa, di Banjarmasin” jawab beliau. Tegas dan pasti.


 
           
Dengan persiapan seadanya, keesokan harinya aku berangkat menuju Banjarmasin. Jarak antara Tanjung ke Banjarmasin itu sekitar 243 km, yang biasanya memakan waktu 6 jam perjalanan. Nah, di perjalanan itulah aku mulai kenal baik dengan Alfi dan Yusiva, perwakilan dari SMA Hasbunallah. Dan kebetulan, Alfi adalah temanku waktu SD,  yang  merupakan delegasi Tabalong di Forum Anak Nasional tahun 2013.
            “Yang pasti, mun bisa umpat FAN ini untung bangat. Sudah dapat ilmu gratis, bejalanan gratis, bisa tetamu orang berpengaruh, dapat uang pesangon pulang” ceritanya dengan penuh semangat.
            Aku dan Yusiva yang jadi pendengar setia cerita Alfi pun hanya bisa kagum, dan mulai menanamkan tekad untuk bisa jadi delegasi Tabalong di FAN 2014 ini.
            “HARUS BISA NUUUK. WAJIIB” teriakku pada diriku sendiri.


 


            Hari penentuan pun tiba. Semua calon delegasi Kalimantan Selatan mengikuti tes di kantor gubernuran Kal-Sel. Dari tes tertulis, wawancara, hingga tes bakat. Hingga terpilihlah 12 delegasi dari 12 kabupaten di provinsi Kalimantan Selatan. Mereka adalah: Ahmad dari HSU, Sarah dari HST, Hafiz dari HSS, Bayu dari Batola, Ridha dari Tala, Cindy dari Balangan, Andri dari Banjarbaru, Rayda dari Banjarmasin, Kiki dari Martapura, Zaid dari Tapin, Kisty dari Kotabaru, dan Nuka dari Tabalong.
            “ALHAMDULILLAH YA ALLAH, NUKA KE JAKARTAAAA” ucapku  berlagak seperti para jebolan pencarian bakat di TV ketika mendengar pengumuman itu.
            Kami pun pulang ke daerah asal masing-masing setelah saling bertukar kontak.
            “Sampai tatamu bulan kena lah, mudahan sukses barataan” kalimat itu,  menandakan akhir, sekaligus awal pertemuan kami ber-12.
           

Satu bulan persiapan yang panjang pun  tidak terasa telah tiba. Kami berkumpul di bandara Syamsuddin Noor sesuai yang sudah direncanakan. Tampak senyum  tak  pernah lepas dari wajah kami semua.
“Hari yang kita hadang sampai jua akhirnya” ucapku  gembira.
“Hiihnah, gugup aku, akhirnya terasa jua naik pesawat” jawab hafiz polos yang langsung memancing tawa kami yang mendengarnya.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pesawat berangkat, dan tiba tepat 1 jam 45 menit sesudahnya di Jakarta.
Sesampainya di Jakarta, kami semua semakin takjub melihat betapa megahnya kota yang jadi ibukota negara tercinta kita ini. Dan sewajarnya orang kampung yang baru datang ke kota, kita pun mulai bertanya tentang segala hal yang kita lihat di Jakarta.
Dari pertanyaan awajar seperti “Kyapa caranya manusia mbangun monas yang kaitu ganalnya leh?”
Pertanyaan agak tidak wajar seperti “Wah, di Jakarta ada orang main kalayanganan leh?”
Hingga pertanyaan super tidak normal seperti “Wah, di Jakarta orang behinak leh?”
Yang cuman bisa kujawab “Guys, jangan kampungan pang. Ini Jakarta. Lain planet Namek”


 


Sesampainya kami di jakarta, kami langsung menuju tempat dilaksanakannya FAN 2014 ini, Taman Mini Indonesia Indah, atau yang biasa kita kenal dengan TMII. Disana kami melakukan registrasi, dan  langsung diberi segala perlengkapan yang dibutuhkan waktu FAN, seperti peralatan mandi, alat tulis, baju, jaket, hingga tas. Yang langsung membuat kami semua berucap
“Berat-berat kita mbawa mulai kalsel, sekalinya diberi jua pas disini. Nasib nasib”
Agenda hari pertama pun ditutup dengan materi yang disampaikan langsung oleh kementrian langsung pada malam harinya. Yang jujur, tak begitu bisa kutangkap karena malam itu aku mendadak terserang demam yang akhirnya jadi bahan ledekan teman-teman lain.
“Dasar anak mami, hanyar tepisah berapa jam ja garing dah” ledek mereka.
.

Pada pagi hari kedua, kita semua diwajibkan ikut acara pembukaan , karena di acara pembukaan itulah akhirnya kita bisa bertemu  langsung dengan delegasi tiap kabupaten di seluruh Indonesia. Pada pagi itu kita berkenalan, saling mengenalkan diri serta mengenalkan tradisi & budaya  yang dimiliki daerah masing-masing.
Menuju  tengah hari, acara yang ditunggu-tunggu semua orang pun tiba. Perkenalan tiap delegasi di atas panggung utama. Iya, ditungu-tunggu sekaligus acara paling menakutkan, karena kita akan dilihat langsung oleh seluruh delegasi, panitia, bahkan pejabat dari kementrian. Perlahan, satu demi satu delegasi FAN memperkenalkan diri, hingga akhirnya kini tiba giliranku.
            “Bismillahirrahmaanirrahiim, ikam pasti bisa, Nuk” ucapku  meyakinkan diriku sendiri.
            Aku pun melamgkahkan kaki gemetarku menuju panggung yang terletak tepat di bagian depan ruangan. Tak ada suara sama sekali, yang kulihat hanya ratusan tatap mata yang seakan mengekor setiap langkah kakiku. Aku berhenti tepat di depan sebuah podium yang berdiri gagah di tengah-tengah panggung, mengedarkan pandangan, tersenyum simpul, dan berkata lantang
            “Perkenalkan, nama saya Nuka Hanif  Naufal, saya perwakilan dari Forum Anak Daerah kabupaten Tabalong.”
            Yang langsung disambut tepukan riuh dari seluruh  penjuru  ruangan. Memang, itu cuman perkenalan biasa, tapi dilakukan di acara sebesar ini menjadikannya perkenalan terindah seumur hidupku.
            Setelah  pembukaan,  acara dilanjutkan dengan materi yang kali ini dibawakan oleh Pandji pragiwaksono.  Yang aku masih ingat saking senangnya aku nulis status di hampir di semua sosial mediaku:
“AKHIRNYA BISA TETAMU PANDJI UWOOOOW”
Pada  malam harinya, kita dikasih tahu tentang sosial media khusus anak bernama Statusfan. Jadi,cstatusfan ini tidak jauh berbeda dari sosial media lainnya, hanya saja di statusfan  ada kolom berita khusus anak, serta kolom tentang daerah yang biasa diisi oleh pengguna statusfan.


 


Hari ketiga, adalah hari yang paling ditunggu anak-anak FAN. Karena hari ini, kami semua akan diajak jalan-jalan  gratis, seharian. Dan, tempat pertama yang akan kami kunjungi adalah monas,k ami yang mayoritas berasal dari kampung pun, ketika melihat monas hanya bisa terpana.
“Ngini nih bisa 10 kali lipat lebih ganal dari obor tanjung. Amas pulang atasnya, humaaa” ucapku  takjub.
Di monas kami diajak berkeliling dari luar, hingga museum yang ada di bawahnya. Tapi sayang, karena terlalu banyak delegasi FAN, kita jadi tidak bisa naik ke puncak monas.
Setelah dari Monas, kami langsung berangkat menuju Dufan. Nah, didufan inilah kami menghabiskan waktu seharian untuk mencoba sebanyak mungkin wahana yang ada. Hingga tiba di sebuah wahana a      ir yang bentuknya persis arung jeram. Si Amat yang berasal dari hulu sungai pun berkomentar.
“Kita, jauh jauh ke Jakarta wara gasan bejukung pulang? Apa bedanya lawan di hulu sungai?” ucapnya  yang langsung disambut tawa kami semua.
                                                      

Memang, itulah kenangan singkat kami. Tiga hari yang berlalu sangat cepat, tetapi kenangan, pertemanan, serta kebahagiaan yang kami dapat akan  bertahan selamanya di hati masing-masing.


P.s: ini sebenernya tugas, tapi ya daripada dibuang gitu aja, mending gue publish deh. Bhaks.


Baca selengkapnya

Saturday, 12 September 2015

Jatuh cinta itu racun.

Jatuh cinta adalah racun.
Dimulai saat kamu melihatnya dari kejauhan.
Racun itu mulai merasuki dirimu.
Kamu mulai penasaran tentangnya.
Memikirkan segala cara tuk bisa mengenalnya. 
Mencari tau hingga di setiap sosial media.
Sekedar ingin tahu siapa namanya, berapa ukuran baju, hingga ukuran sepatunya.

Jatuh cinta adalah racun.
Saat kamu sudah kenal baik dengannya.
Racun itu mulai menyebar ke seluruh tubuhmu.
Dan perlahan menuju hati dan pikiranmu.
Hatimu mulai berdetak tak tentu saat dekat dengannya.
Pikiranmu mulai kacau saat kau jauh darinya.
Mereka sebut kamu gila.
Memang, itulah efek samping racun bernama cinta.

Jatuh cinta adalah racun.
Tak lama setelah itu, kamu mulai dekat dengannya.
Racun itu kemudian semakin ganas.
Ia menyita waktumu.
Membuatmu selalu memikirkannya.
Tapi kamu sadar kamu bukan siapa-siapa baginya.
Racun itu membuat hatimu mulai bertanya-tanya.
"Bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkanmu?"
Dan akhirnya kamu berubah menjadi obsesi.
Untuknya, kamu berusaha selalu ada, selalu sedia.

Jatuh cinta adalah racun.
Kini ia milikmu.
Dan racun itu mulai membunuhmu.
Kamu membuang segala hal deminya.
Keluarga, teman, waktu, bahkan agama.
Yang ada di pikiranmu sekarang hanya
"Dia sedang apa?" Atau "kenapa belum ada kabar darinya?"
Temannya adalah ancaman dimatamu.
Bukan bermaksud mengekang.
Hanya takut, teman itu juga akan dapat perasaan lebih.
Sama sepertimu dulu.

Jatuh cinta adalah racun.
Tak terasa, kalian telah lama bersama.
Badai, gempa, kalian lalui berdua.
Dari cobaan biasa seperti "bosan", hingga berujung masalah besar seperti "perselingkuhan".
Tapi kalian tetap bersama.
Entah karena cinta.
Atau merasa rugi membuang hubungan yang begitu lama.

Jatuh cinta adalah racun.
Kini kalian telah lelah.
Selalu menjadikan hal kecil jadi masalah.
Bukan karena tak lagi mencintai.
Hanya seperti ego telah hadir di tengah kalian berdua.
Cinta jadi alasan, bagi perkelahian, masalah, cemburu. 
Cinta jadi alasan, mengekangnya dari pergaulan.
Cinta jadi alasan, menyita setiap waktunya hanya untukmu.
Racun itu semakin gila.
Dan berubah jadi hal jahat.

Jatuh cinta adalah racun.
Mungkin inilah saatnya.
Prinsip kalian sudah terlalu berbeda.
Maka perpisahan, adalah satu-satunya jalan. 

Dan, kalian berpisah.
Melupakan cinta yang dulu kalian bangga-banggakan.
Melupakan segala perjuangan yang telah kalian lakukan.

Jatuh cinta adalah racun.
Awalnya kamu bahagia.
Terbebas dari ikatan dan kekangan.
Kini kamu bebas.
Tapi tanpa kamu sadari, racun itu malah makin merusak hidupmu.
Kamu mulai merasa hampa.
Kamu mulai merindukannya.
Kamu bahkan mulai gila.
Lebih gila dari sebelum kamu mengenalnya.
Jatuh cinta adalah racun.
Waktu berlalu.
Kamu mulai jatuh cinta lagi.
Dan melupakan luka dari racun lama yang kamu dapat darinya.
Tapi,
Bukan.
Jatuh cinta lagi bukanlah obat penawar racun itu.
Kau hanya meracuni dirimu lagi.
Sehingga perih dari racun lamamu tertutup dengan racun baru itu.
Ya, karena jatuh cinta, adalah racun.
Baca selengkapnya

Monday, 7 September 2015

Saat waktu itu tiba.

Ada kalanya, ia merasa kesepian di tengah-tengah keramaian.
Bukan karena ia diabaikan, hanya seperti tersadar, bahwa ia tak dibutuhkan.

Ada kalanya, canda tawa tak lagi menarik dimatanya.
Bukan karena ia tak menyenanginya, hanya seperti dunia terlalu remeh untuk dihabiskan hanya dengan bercanda.

Ada kalanya, yang ia inginkan hanya pergi.
Bukan karena ingin dicari, hanya seperti dunia memang meyisakannya sendiri.

Saat waktu itu tiba, yang ia rasakan hanya sepi.

Saat waktu itu tiba, yang ia pikirkan hanya pergi sejauh yang ia bisa.

Saat waktu itu tiba, sendirilah jawaban yang paling tepat baginya.

Saat waktu itu tiba,

bukan hanya dia.

Aku pun, tak tau harus bagaimana.
Baca selengkapnya

Friday, 21 August 2015

Terkadang kita sebodoh itu

Terkadang kita sebodoh itu.
Mempertahankan, sesuatu yang menyakitkan.
Berharap, pada hal yang takkan terjadi.
Memberi harap, pada sesuatu yang tak pasti

Kita kadang sebodoh itu.
Mencoba percaya, kan berujung bahagia.
Mencoba setia, pada para pendusta.
Mencoba mengerti, pada yang tak pernah pahami.

Kita kadang sebodoh itu.
Mengagumi, tanpa berusaha memiliki. 
Bersabar, pada ia yang selalu ingkar.
Menunggu, pada hal yang kan membuang waktu.

Kita kadang sebodoh itu.
Tetap jujur, walau hati terasa hancur.
Tetap ikhlas, walau telah diperas.
Tetap menerima, walau sakit yang terasa.

Kita kadang sebodoh itu.
Mencoba peduli, pada dia yang menyakiti. 
Selalu perhatian, pada dia yang mengabaikan.
Berusaha, pada hal yang sia-sia.

Kita kadang sebodoh itu.
Dan, tetap berbuat hal bodoh seperti itu, walau kau tau hal itu hanya menyakitimu.
Ya, terkadang kita memang sebodoh itu.
Baca selengkapnya

Monday, 10 August 2015

Sakit

Pernah ku terluka.
Mencoba berharap pada hati yang tak setia.
Mencoba percaya walau hanya mendapat dusta.
Mencoba terima walau tahu kan kecewa.
Mencoba mencinta walau sakit yang kuterima.

Waktu itu, kupikir inilah akhirku.
Untuk apa aku hidup kalau tanpa dirimu,
begitu pikirku. 

Mengerikan, saat kuingat cinta yang kubangga menghancurkan harapanku.
Mengikis sisa-sisa semangat hidupku.
Tapi itulah takdir, harus kuterima walaupun berakhir pilu.

Kini, semua bisa kulewati.
Mencoba menutup luka dengan cara mengagumi.
Mencoba menyembuhkan diri dengan jatuh hati.
Kecewa terhapus bahagia.
Benci terganti cinta.
Tak lagi ada duka. 
Hariku hanya tentang suka.

Hingga hari dimana sakit itu tiba.
Sakit yang lebih besar dari kecewa.
Perih yang lebih dalam dari hati yang terluka. 

Bodoh, dulu aku kehilangan harapan hanya karna cinta berbalas kecewa.
Bodoh, dulu aku telah menyerah hanya karena sakit yang sangat tiada artinya.

Namun, kini aku mengerti.
Sakit ini telah memberiku arti.
Dan menyadarkan hati.

Memang,

Sakit gigi,


lebih perih dari sakit hati.




Puisi di atas disponsori oleh gigi gue yang udah seminggu ini sakit-banget-luar-biasa-sampe-rasanya-pengen-guling-guling :|

Udah ke dokter sih. Katanya gara-gara geraham bungsu mau tumbuh.
Ya doain aja semoga cepet sembuh deh. Amin :|

Btw, maaf ya telat ngepost. Selain gara-gara sakit gigi. Minggu ini gue juga sibuk abis daftar ulang kuliah.

Tapi insha allah bakal rutin nulis lagi dari minggu depan.
So, baca, komen, dan share terus ya!
MAKASEH~
Baca selengkapnya

Thursday, 23 July 2015

Sendal goreng balado

Yoy!
Gue balik lagi!

Bukan kok, gue bukan lagi pengen nulis tutorial cara bikin sendal goreng balado :|

Tapi tutorial cara makannya :| #heh #bukan

Jadi gini.
Pernah ngga sih kalian ketemu orang yang keras kepala banget?
Tiap dikasih tau ngeyel, terus walaupun mereka udah tau salah mereka tetep ngotot.
Ya, sebenernya sih setiap manusia pasti pernah gitu, tak terkecuali gue.

Tapi kadang, adaaa aja orang yang ngeyelnya parah. 
Kalo ketemu yang parah gitu sih, paling enak ya tatap mata dia,
terus senyumin, 

ajak makan, 

suapin,

Pake sandal goreng balado.

Yang cabenya 4. 

Boncengan. 

Ngga pake helm. 

#bhay

                             

Nah, maka dari itu. Untuk membentuk suatu kebangsaan yang bebas, maka kali ini gue bakal ngasih tips, gimana caranya menghadapi sendal goreng balado.

Eh maksudnya menghadapi orang yang keras kepala. Langsung aja deh, cekidot~

1. Lawan. 

Yang ini ngga dianjurin sih. Tapi ya kalo ngeyelnya parah. Mungkin ada baiknya kalo kita lawan.
Ya asalkan niatnya emang buat nyadarin dia.
Jangan ngelawan cuman karna kalian gengsi ngga mau kalah :|
Jangan juga ngelawan gara-gara pengen balas dendam karna dia pernah makan jatah keripik obat nyamuk kalian.
Jangan.
Mending beli aja sendiri. :|

2. Kasih tau baik-baik. 

Kadang tipe kaya gitu kalo kita lawan, dia bakal malah makin ngeyel.
Jadi saran gue, mending kalian ngomong baik-baik aja.
Tapi jangan terlalu baik ya, ntar ditolak pake alasan "Kamu terlalu baik buat aku".

3. Buktiin

Buktiin kalo kalian emang bener!
Caranya ya, kasih fakta-fakta, cari bukti yang bener, terus bikin pendapat yang telak. Biar dia ngga bisa ngelak lagi.
Kalo mau lebih mantep sih. Sekalian aja bawa saksi.
Tapi jangan sampai saksinya pada bilang "Sah" yaa.

4. Diemin. 

Dia masih ngeyel? Ngga mau ngaku salah?
Udah diemin aja, nanti juga cape sendiri.
#krik

5. Masih gagal?

Mungkin saatnya buat kalian bikin Sendal goreng balado.

                             

Yup, itu aja kali ya tips dari gue buat menghadapi orang keras kepala.
Terus, buat kalian kalian yang sering keras kepala sama pendiriannya.
Coba sekali-kali, liat masalahnya dari semua sisi.
Jangan cuman dari sisi kalian.

Ya ibaratnya, kalo kita liat dari mata kita, bumi emang datar.
Tapi kalo kita liat keseluruhan, nyatanya bumi itu bulat kan?
Begitu pula sebuah masalah.

Ngga selamanya apa yang kita tau itu bener.
Terkadang, kita juga mesti dengerin kenyataannya.
Kalo udah gitu. Pasti kalian bakal lebih mudah nyelesain masalah!
Yoi!

Baca selengkapnya

Tuesday, 21 July 2015

PBB

PBB

Dari judul di atas, kalian pasti tau kali ini gue bakal bahas apaan kan?

Yup! Partai Bulan Bintang! #heh #bukan

Jadi gini, kan sekarang gue bakal ngelanjutin pendidikan ke Jenjang lebih tinggi. #ceilehbahasanya
Tepatnya di Universitas lambung mangkurat Banjarmasin.

So, otomatis gue bakal pindah rumah juga,
ke hatimu. #bye.

Nah, jadi singkatnya sih. Dulunya itu gue tinggal di Tabalong, sekitar 243 km dari Ibukota KalSel. Banjarmasin. Ya, sekitar 6 jam lah. Dan sekarang gue bakal langsung pindah ke pusat kotanya bro!

So, kebayang kan betapa bahagianya gue karna akhirnya  bakal pindah rumah?

Dan,
Kebetulan banget, dari zaman minion masih suka kulit manggis, gue punya mimpi. Suatu saat, kalo gue udah hidup di kota. Gue bakal ikut semua komunitas.
Dari blogger, speedcuber, sampe parkour kalo ada.
Biar bisa jadi seseorang yang sukses, dan terkenal.

Dan kebetulan lagi, alhamdulilah, kuliah ini berarti gue bakal bisa pindah ke kota, dan ngejar cita-cita gue.

Dan lebih alhamdulilah lagi, ternyata ada juga komunitas yang mau dan ikhlas komunitas mereka dimasukin sama makhluk astral bin ajaib kaya gue ini.

Namanya Pena Blogger Banua
#yeeeay #uwooow  \(´▽`)/

Singkat cerita.
seperti member baru pada umumnya, gue diospek.

Ospeknya super banget bro.
Dari disuruh makan sendok pake nasi, disuruh nonton barbie sambil ngemil kulit kuaci, sampe disuruh jadi tulang punggung 100 janda muda. #beratbro

Ngga kok. Masuk sana gue ngga di apa apain, paling banter ya, dimodusin sama dua orang cowo. #lebihngeri

Oke, setelah beberapa jam kenal mereka, dan mulai akrab, gue pun mulai blogwalking ke blog member-member PBB. Biar tau, kepribadian sama genre masing-masing.

Dan saat itu.

Gue baru sadar.

Ternyata selama ini gue ngga ada apa-apanya dibanding mereka.

Abis blogwalking di blog mereka. Gue liat apa itu blogger professional, apa itu artikel yang baik dan benar.

Beda banget sama gue.

Selama ini gue cuman nulis apa yang gue mau tulis.
Tapi gue ngga pernah sekalipun mikir buat posting hal yang lagi hot. Atau apa yang orang lain pengen tau. Orang lain pengen baca.

Itulah yang bikin blog gue susah berkembang.

Gue cuman mikirin apa yang bisa gue terima. Bukan apa yang bisa gue beri.

Makanya dari dulu gue cuman gini-gini doang.

Anjir, kenapa baru sadar sekarang ya?
Apa mungkin efek radiasi kulit kepala Haji lulung?
Atau, gara-gara virus guelaperia bangetia?

#auah

So, buat kalian yang selama ini baca blog gue, gue janji. Setelah gue selesai sama urusan UKT, daftar ulang, dsb.

Gue bakal mulai perbaikin ini blog. Dan mulai merhatiin kualitasnya.

DAAHHH~

Baca selengkapnya